NAMA : MUJIB FATHURRAHMAN
NIM :
D1B016056
KELAS
: E
(Agribisnis)
MATA KULIAH : BAHASA INDONESIA
KASIH
SAYANG SEORANG IBU
Ali
adalah anak semata wayang yang dulunya
adalah seorang yang santun,baik dan ramah. Namun semenjak Ali
mulai kuliah di salah satu perguruan tinggi di kota jakarta Ali mulai berubah, ali sudah
mulai mengenal pergaulan bebas dan mulai berfoya –foya , bahkan Ali sudah lupa
dengan ibunya, tidak memberi kabar atau menanyakan
kabar ibunya, setiap menelpon ibunya Ali hanya minta untuk dikirimkan uang dan tidak pernah menayakan kabar ibunya.
Memang seoarang ibu tidak butuh dengan
perhatian anaknya, tapi setidaknya
sebagai seorang anak cobalah untuk memahami seorang ibu, dengan memberi kabar saja kalau dirinya baik-baik saja itu sudah lebih
dari cukup bagi seorang ibu. Hari demi hari minggu demi minggu dan bulan demi
bulan terus berlalu dan ali terus
memperlakukan ibunya seperti itu, tanpa menanyakan dan memberiakan kabar kepada
ibunya tetapi hanya melapor kalau uangnya sudah habis dan minta dikirimkan
lagi. Setiap ditanyakan oleh ibunya uangnya digunakan buat apa saja ali hanya
menjawab dengan nada membentak kalau
uangnya digunakan untuk beli buku inilah,itulah, bayar inilah, itulah dan
seketika itupun ibunya tersentak dengan mengelus dada dengan hanya menjawab “oh gitu ya nak, ya sudah besok ibu
kirim” seketika itu pula ibunya yang hanya seorang janda yang suaminya entah
menghilang kemana, dan hanya bekerja sebagai buruh serabutan, dan seketika itu
pula ibunya buru-buru untuk mencarikan
pinjaman uang dan akan membayarnya dengan tenaga, dan mengirimkan uang tersebut ke anaknya.
Terkadang seorang anak tidak pernah tahu
betapa susahnya orang tua mencari uang,
dan hanya bisa merengek . memang orang tua tidak akan menceritakan
kesusahan-kesusahan yang dilaluinya hanya untuk membuat anaknya tersenyum, tapi
setidaknya balaslah jerih payah orang tua dengan bertingkah laku baik,dan
kuliahlah dengan baik, dan menjadi orang sukses agar menjadi kebanggaan orang
tua kelak.
Tidak
terasa sudah setahun ali menjalankan kuliahnya dan lebaran tiba. bukanya pulang kekampung untuk merayakan lebaran bersama orang tua, tetapi ali malah berkata kalau diirinya tidak
pulang lebaran , malah minta kiriman
uang lagi kepada ibunya dan menghabiskan uangnya dengan berfoya-foya dan
mabuk-mabukan bersama temanya di klub malam. Sang ibu mendengar anak semata
wayangnya yang tidak pulang ketika
lebaran hanya bisa mengelus dada dan berkata di dalam hati “ya allah
tabahkanlah hambamu ini , mungkin anakku
tidak pulang memang karena ada urusan yang lebih penting lagi”. Begitu pula untuk lebaran yang kedua kalinya
ali tetap tidak mau pulang, dan
akhirnya pada lebaran tahun ketiga ali
pualng. mendengar kabar kalau anaknya
akan pulang, ibunya sangat gembira dan seraya berkata di dalam hati “ ya allah terima
kasih engkau telah kabulkan permintaan hatiku” pada hari kedatangan ali, ibunya sengaja
menunggu di depan rumah, tetapi hal yang sangat tidak diduga oleh ibunya, ali
datang bukanya menyalam ibunya tetapi malah langsung berlari kekamarnya dan
langsung tidur. Melihat tinggkah laku anaknya yang seperti itu, ibunya kembali
mengelus dada dan berkata di dalam hati “ ya allah tabahkan hati hambamu ini,
mungkin anakku memang terlau lelah
sehingga tidak menyalamku lagi”. Hari pertama di rumahnya, ali bukanya di menghabiskan
waktumya bersama ibunya yg sudah tiga
tahun tidak bertemu, ali malah pergi jalan-jalan bersama temanya. Hati ibu kian
teriris melihat tingkah anaknya seperti itu, tapi tetap mencoba sabar. Dan sore
pun datang, ternyata ibunya mempunyai firasat lain, entah mengapa tiba-tiba
ibunya terfikir ingin menulis wasiat dan di tulisnya di sebuah kertas kecil
yang berbunyi “ ibu sangat menyayangimu nak, jika ibu sudah tidak ada nanti
tolong rubahlah sikapmu nak, jangan lupa sholat ya” dan di taruhnya di sebelah
sajadahnya, stelah itu ibunya berwudhu lalu sholat, tanpa di duga pada sujud
terakhir allah melaului malaikat izrail mencabut ruh ibunya. hari pun mulai gelap dan ali pulang, betapa
terkejutnya ali melihat ibunya yang sudah kaku dan membaca surat wasiatnya,
seketika itu pula darah ani mengalir cepat dan berteriak sambil menangis
histeris seraya memeluk ibunya dan berkata “ jangan pergi ibu, anakmu ini
sangat durhaka terhadap ibu, anakmu ini belum bisa membahagiakan ibu”
Tapi apalah daya, yang sudah pergi
tidak akan pernah kembali, satu –satunya cara yang bisa untuk menebus kesalahan
diri adalah dengan cara, merubah diri menjadi lebih baik lagi, dan menjadi anak
yang soleh dan berdo’a kepada allah agar dipertemukan kembali di surganya kelak
sarat akan pesan moral, tinggal gaya penyampaian yang terlalu panjang tiap penggalan kalimat-kaliamat per paragraf. sejauh ini tulisan mujib sudah bagus
BalasHapus